Ukuran tubuh saya bisa dibilang cukup besar. Tinggi 173 cm dengan berat badan hampir 80 kg. Setiap tahun, rapor Medical Check Up rutin saya selalu menyatakan bahwa saya kelebihan berat badan. Gemuk. Tapi sebenernya ga gemuk-gemuk amat kan ya?! 😜

Jujur porsi makan saya memang banyak. Tetap 3 kali sehari, tapi memang cukup banyak tiap porsinya. 😁

Nah! Untuk urusan minum air putih, juga banyak. Bahkan kayak-nya terlalu banyak. Kalo saya perkirakan bisa lebih dari 2 liter per hari. Diatas jumlah yang dianjurkan oleh para dokter di tivi.

Akibatnya?! Tentu yang pasti —selama saya rutin MCU sih ya— ginjal saya alhamdulillaah selalu sehat. Tapi satu hal konsekuensinya: saya beser. 😅 Tapi beser yang sehat lho ya, bukan yang karena ada apa-apa.

Jadi, jika suatu ketika saya baru saja berjalan masuk melewati pintu mall Tunjungan Plaza Surabaya, pasti saat itu juga saya tengak-tengok, mencari simbol di bawah ini.

Jika saya berhasil menemukan simbol tersebut, tanpa berpikir panjang, pasti saya akan menuju ke arah yang ditunjukkan oleh simbol tersebut.

Simbol toilet. Simbol yang jika saya, ataupun Anda melihatnya, tidak perlu membuka Google untuk mencari apa maknanya. Siapapun pasti paham.

Itulah salah satu kekuatan simbol, memudahkan otak siapapun untuk menghafal hal apapun juga. Simbol toilet, simbol sebuah atap bangunan dengan bulan sabit dan bintang di atasnya, warna merah dan biru di dispenser air mineral, hingga simbol yang dibuat oleh jari Jennie Kim di bawah ini, pasti Anda semua otomatis sudah langsung mengenalinya hampir tanpa berpikir.

Saranghae…

Simbol adalah sebuah tanda, isyarat, atau bisa kata, yang mengindikasikan, menunjukkan, atau dipahami sebagai perwakilan dari sebuah ide, benda, atau suatu hubungan. Ilmu yang mempelajari simbol biasa dikenal dengan simbologi.

Simbol membuat kita memikirkan sesuatu yang bisa jadi jauh berbeda dengan makna asli simbol yang kita lihat. Semacam ada hubungan keterkaitan yang sudah otomatis kita pahami.

Semua model komunikasi berasal dari bahasa simbol. Huruf, angka, simbol matematika, simbol resistor, kumparan, turbin, atau apapun itu, semua berasal dari konsep pemikiran yang sudah diberi simbol-simbol khusus.

Simbol memudahkan kita untuk menghapalkan sesuatu. Ini fakta. Mari Anda ikut saya untuk sedikit ngelantur, memahami contoh kasus berikut ini.

Beberapa hari yang lalu saya beruntung mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah pelatihan dengan tema kepemimpinan. Lebih beruntung lagi, trainernya bisa saya bilang, hebat.

Beliau ini sepertinya selalu berusaha untuk menyederhanakan sesuatu yang rumit. Sehingga materi apapun yang beliau sampaikan, jika rumit, pasti akan dibuat mudah.

Beliau bernama Agus Priyadi, seorang Magister Psikologi asal Pontianak yang sudah lama merantau di Jawa.

Singkat cerita, kami para peserta pelatihan diminta untuk mengisi dua halaman kuisioner berisi 40 soal pilihan pernyataan. Di setiap nomor soal kita diminta memilih salah satu dari empat opsi yang paling cocok dengan pribadi kita. Masing-masing opsi diwakili oleh simbol khusus yakni ♣️ (keriting), ♦️ (wajik), ♥️ (hati), dan ♠️ (waru). Mana opsi yang kami rasa cocok, kami tinggal memberi tanda check di kolom sebelah kanan sesuai dengan simbol yang mewakili.

Selesai mengisi kuisioner, kami diminta untuk menotal berapa jumlah ♣️ (keriting), ♦️ (wajik), ♥️ (hati), dan ♠️ (waru) yang kami pilih. Kami pun diminta berdiri dan berkumpul dengan sesama ♣️, ♦️, ♥️, atau ♠️, sesuai dengan jumlah mana yang paling banyak dari masing-masing peserta.

Maka dari sinilah pertunjukan dimulai. Pak Agus mulai menjelaskan seperti apa kepribadian kami.

Dimulai dengan kami yang paling banyak memilih ♣️. Orang-orang ♣️ ini memiliki sifat yang blak-blakan, to the point, cepat mengambil keputusan, cepat move on, suka ngatur, dan pantang untuk meminta maaf.

Oh no?! I’m part of them. Hahahahaa…

Selanjutnya adalah orang-orang ♦️. Mereka ini orang-orang yang paling seru, ramai, heboh, easy going, supel, sangat ekstrovert, dan banyak ide. Orang-orang ♦️ sangat suka bercerita. Mereka ini lebih suka bekerja di luar, bertemu dengan banyak orang, daripada bekerja di dalam ruangan yang sempit.

Lalu bagaimana dengan orang-orang ♥️? Mereka ini orang-orang yang perasa, baper-an, halus, hati-hati, butuh waktu lama jika harus mengambil keputusan, dan sering membutuhkan me time. Tapi kelebihan mereka adalah mereka telaten, selalu berusaha bekerja sebaik-baiknya jika mendapat tugas, dan cocok untuk dijadikan tempat curhat.

Dan yang terakhir adalah orang-orang ♠️. Orang-orang ♠️ ini adalah para analisator, mereka selalu bekerja berdasarkan data, selalu berdasarkan SOP, sistematis, teliti, dan hati-hati. Mereka cenderung susah mengobrol dengan orang-orang ♣️, ♥️, apalagi ♦️. Tapi, orang-orang ♠️ sangat nyaman jika mengobrol dengan sesama ♠️.

Lalu apa sih sebenarnya orang-orang ♣️ (keriting), ♦️ (wajik), ♥️ (hati), dan ♠️ (waru) ini? Inilah mereka.

(Credit: DISC Insight)

William Moulton Marston, seorang psikolog yang juga pengacara, memperkenalkan teori empat pengelompokan karakter manusia. Kemudian teori tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh Walter Clarke di tahun 1956 menjadi apa yang dikenal dengan DISC Assesment. DISC adalah Dominance, Influencer, Steadiness, dan Complience. DISC Assesment ini sangat populer hingga saat ini sebagai alat untuk mengenal personalitas seseorang.

Dan seperti yang sudah Anda duga, bahwa orang-orang ♣️ adalah Dominance, ♦️ adalah Influencer, ♥️ adalah Steadiness, dan ♠️ adalah Complience.

Namun apa yang dilakukan oleh Pak Agus dengan menyimbolkan keempat karakter DISC tersebut sedari awal, membuat empat karakter tersebut tertancap dengan sangat kuat ke dalam otak kami, tanpa perlu menghapal empat nama rumit yang sesungguhnya. Bahkan beberapa hari setelah pelatihan berakhir pun — dan mungkin hingga selamanya — saya masih saja menyimpulkan karakter seseorang dengan sebutan ♣️, ♦️, ♥️, atau ♠️.

Itulah kekuatan simbol. Suatu hal yang rumit bisa kita sederhanakan menjadi lebih mudah untuk kita hapal. Bahkan bisa jadi tidak akan terlupakan.

Salut untuk Pak Agus Priyadi. Semoga ilmu bermanfaat ini selalu barokah dan menjadi ilmu multi-level yang terus-menerus menebar manfaat ke banyak orang. Aamiin.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *