Seperti yang telah kita singgung sedikit pada artikel sebelumnya, vibrasi pada suatu partikel atau benda lebih banyak yang bersifat merusak. Getaran dapat membuang energi dan menciptakan ketidakseimbangan, gesekan, dan kegagalan dalam perangkat mekanik. Tak ayal getaran menjadi salah satu permasalahan yang sangat dihindari di dunia industri, terutama pada mesin-mesin yang melibatkan proses putaran tinggi seperti pompa, kipas, kompresor, hingga turbin dan generator. Sebagian peralatan tersebut secara rutin dilakukan pengukuran vibrasi menggunakan sensor vibrasi portabel. Namun pada peralatan yang membutuhkan data vibrasi secara langsung (real time), sensor vibrasi dipasangkan secara permanen untuk terus memonitor nilai vibrasi yang terjadi. Tak jarang nilai vibrasi yang direkam secara langsung tersebut berhubungan langsung dengan sistem proteksi alat terkait.

Sebelum kita beranjak lebih lanjut membahas bagaimana sebuah sensor vibrasi bekerja (kita bahas di artikel selanjutnya), kita harus memahami lebih dahulu beberapa karakteristik getaran. Ada tiga parameter yang dijadikan patokan untuk membedakan antara getaran yang satu dengan yang lainnya, mereka adalah amplitudo, frekuensi, dan fase. Frekuensi getaran adalah jumlah getaran ysng terjadi tiap satuan waktu (detik dalam Standard Internasional). Parameter ini ditunjukkan dengan satuan Hertz (Hz). Fase getaran menunjukkan arah gerakan siklus getaran yang terjadi. Parameter ini membantu kita dalam menentukan lokasi relatif komponen yang bergetar terhadap komponen yang lain.

Sedangkan amplitudo adalah jarak antara titik terjauh gelombang getaran dengan posisi setimbangnya. Amplitudo lebih kita kenal sebagai karakteristik yang menunjukkan seberapa kuat getaran terjadi. Semakin tinggi amplitudo, menunjukkan semakin kuat getaran yang terjadi.

Amplitudo menjadi fokus pembahasan kali ini, karena salah satu metode kuantifikasinya sudah mencakup nilai frekuensi getaran. Berikut adalah metode-metode kuantifikasi amplitudo getaran:

  1. Nilai Puncak-ke-Puncak (Peak-to-Peak)
    Nilai amplitudo puncak-ke-puncak penting karena menunjukkan ekskursi maksimum gelombang. Kuantitas ini berguna untuk, misalnya, mengetahui perpindahan bagian mesin akibat getaran yang sangat penting untuk menghitung tegangan maksimum material mesin.
  2. Nilai Puncak (Peak)
    Nilai puncak sangat berguna untuk menunjukkan tingkat guncangan durasi pendek. Namun, seperti dapat dilihat dari gambar, nilai puncak hanya menunjukkan tingkat maksimum getaran yang terjadi di satu titik waktu tertentu.
  3. Nilai Rata-rata (Average)
    Nilai amplitudo rata-rata sudah memperhitungkan durasi waktu getaran yang terjadi. Tetapi dianggap memiliki fungsi yang terbatas karena pada perhitungannya nilai negatif pada gelombang sinusoidal getaran seakan meniadakan yang positif.
  4. Nilai RMS(Root Mean Square)
    Nilai RMS adalah nilai amplitudo yang paling relevan karena selain saja memperhitungkan waktu, metode perhitungan RMS yang mengkuadratkan nilai negatif gelombang sinusoidal getaran, memberikan nilai amplitudo yang lebih aktual. Nilai amplitudo RMS memberikan informasi nilai kandungan energi pada getaran, sebuah parameter yang berkemampuan destruktif bagi komponen mesin.

Credit: Measuring Vibration, Vibration Amplitude Measurement

Categories: Mechanical

1 Comment

monster · May 7, 2018 at 12:47 pm

ilmu yang sangat bermanfaat , terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Thank you for visiting!

Subscribe to our Youtube channel to serve you more information & experience