Kebahagiaan Tidak Bisa Dibeli dengan Uang!

Akhir-akhir ini saya sedang tertarik dengan salah satu tema sains di bidang tingkah laku manusia, yang lebih dikenal tema ini dengan istilah behavioral science. Saya tertarik dengan fakta ilmiah bahwa ternyata sifat bermurah hati seseorang mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Sifat bermurah hati yang ditunjukkan dengan sering bersedekah, sering berdonasi, atau juga menjadi sukarelawan, secara ilmiah terbukti dapat mendatangkan kebahagiaan.

Satu penelitian yang menurut saya sangat akurat mengenai fakta ini telah dilakukan oleh dua orang penting dari University of Notre Dame, Amerika Serikat. Adalah Christian Smith yang seorang Guru Besar dan Direktur Pusat Studi Agama dan Sosial, bersama dengan Hilary Davidson yang seorang Ph, D. di bidang sosiologi, melakukan survey besar di tahun 2010 ke hampir dua ribu penduduk Amerika Serikat, untuk membuktikan hubungan antara sikap dermawan seseorang dengan kualitas hidupnya. Mereka juga melakukan wawancara intensif dan kualitatif kepada empat puluh kepala keluarga yang dipilih secara hati-hati berdasarkan hasil survey mereka sebelumnya. Keempatpuluh kepala keluarga tersebut berasal dari dua belas negara bagian berbeda.

Hasil penelitian dari Christian Smith dan Hilary Davidson tersebut dibahas dan dijabarkan pada sebuah buku berjudul The Paradox of Generosity yang diterbitkan oleh Oxford University Press di tahun 2014. Melalui buku ini ada beberapa fakta menarik yang patut Anda ketahui:

  1. Hasil survey membuktikan bahwa orang yang rutin memberikan donasi dengan jumlah di atas sepuluh persen, memiliki tingkat kebahagiaan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang rutin memberikan donasi kurang dari sepuluh persen. Jika kita tarik garis sederhana maka dapat dikatakan bahwa sesorang yang berdonasi di atas sepuluh persen memiliki tingkat perasaan yang “sangat bahagia”, sedangkan yang berdonasi kurang dari sepuluh persen memiliki tingkat perasaan yang “hanya bahagia” saja. Sangat jelas bahwa semakin banyak seseorang memberikan donasi, atau dapat pula saya katakan bersedekah, maka akan semakin tinggi pula kualitas kebahagiaan hidupnya.
  2. Demikian pula dengan sumbangan tenaga, atau biasa kita kenal sebagai sukarelawan. Smith dan Davidson mengelompokan hasil survey mereka terhadap para sukarelawan berdasarkan jam kerja rata-rata mereka setiap bulannya. Jam kerja rata-rata terbanyak yang dilakukan oleh para sukarelawan adalah selama 5,8 jam setiap bulannya, dan ternyata mereka-mereka ini memiliki tingkat kebahagian paling tinggi dibandingkan dengan sukarelawan yang memiliki jam kerja lebih sedikit. Secara berturut-turut tingkat kebahagiaan para sukarelawan menurun seiring dengan semakin sedikitnya jam kerja yang mereka lakukan.
  3. Bermurah hati kepada keluarga, teman, maupun tetangga juga telah dibuktikan mendatangkan kebahagiaan. Terbukti secara empiris semakin sering seseorang memberi hadiah atau meluangkan waktu bersama keluarga maupun orang-orang terdekat, akan semakin tinggi pula tingkat kebahagiaan yang dirasakannya.
  4. Suatu pemberian yang sifatnya tidak rutin seperti donor organ, menyumbang tempat tinggal bagi yang kurang mampu, atau juga melakukan donor darah, tidak diikuti dengan tingkat kebahagiaan menyerupai pemberian donasi secara rutin.

Fakta yang paling menarik perhatian saya justru ada pada point paling akhir. Jika seseorang memberi sesuatu entah itu donasi, donor darah, donor ginjal, yang sifatnya hanya sekali-sekali atau bahkan sekali seumur hidup, ia tidak akan merasakan tingkat kebahagiaan menyamai orang lain yang lebih rutin. Jelas ini sebuah pembuktian bahwa bukanlah sebuah pemberian yang berkolerasi langsung dengan kebahagian, namun sebuah sifat dermawanlah yang mendatangkan kebahagiaan. Sifat bermurah hatilah yang mendatangkan kebahagiaan. Sebuah keterbiasaan untuk berbagilah yang membuat seseorang bahagia.

 

Credit: The Paradox of Generosity

One Reply to “Kebahagiaan Tidak Bisa Dibeli dengan Uang!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *